8 Jan 2021
Salah satu ciri khas berbisnis di bidang fashion yaitu arus yang dinamis, karena tren dalam fashion berjalan begitu cepat. Hal ini merupakan tantangan bagi para desainer dan wirausaha fashion agar tidak ketinggalan tren. Itu sebabnya memiliki kemampuan untuk memprediksi tren menjadi hal yang sangat penting.
Hal yang Sayangkan, sering kali wirausaha kelas UKM yang bergerak di industri fashion tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tren. Mereka mengerjakan pekerjaan dengan mengandalkan berita lokal dan situasi saja. Dalam buku Anatomy of the Trend juga dijelaskan bahwa ada pola dan siklus yang dapat diamati di balik munculnya sebuah tren. Dan Tren pun dapat diprediksi.
Sari N. Seputra, owner sekaligus desainer brand Major Minor, membagi beberapa tip tentang membedah tren bagi emerging designer agar dapat memenangkan persaingan pasar.
1) Mencari tren adalah melihat dunia secara luas, membuka mata dan telinga untuk tahu apa yang paling digemari banyak orang akhir-akhir ini. Misalnya, seorang pengusaha fashion perlu tahu bahwa sekarang baju sweater bukan lagi identik dengan musim hujan atau winter, sweater sudah menjelma menjadi busana sehari-hari, terutama di kalangan milenial.
2) Bagaimana cara memprediksi tren? Bisa berpatokan dari rumus 5W+1H (Who, What, Where, When, Why, How). “Anda harus mengamati siapa saja yang menjadi trendsetter, apa yang akan terjadi di masa depan, paling tidak satu tahun mendatang harus sudah dipersiapkan,” .
3) Tak hanya jeli akan isu publik di sekitar, seorang desainer juga perlu melihat apa yang terjadi di dunia internasional. Misalnya dengan melihat tren dari panggung Fashion Week dunia.
4) Menemukan Zeitgeist. Jika merujuk ke definisi kamus Merriam-Webster, zeitgeist adalah intelektual, moral, pemikiran, yang memengaruhi budaya dalam suatu era. secara garis besar zeitgeist adalah apa yang paling banyak dicari orang (viral), paling banyak dipikirkan orang dan yang sedang populer. Bicara mengenai tren dalam fashion, zeitgeist berhubungan dengan berbagai poin penting seperti idealism, teknologi, social group. Seorang desainer sebaiknya mempelajari apa yang sedang dibicarakan dalam suatu group yang ingin disasar.
5) Desainer perlu melakukan fashion scan untuk menentukan ciri khas (signature). Salah satu cara adalah dengan menggali kebudayaan Indonesia yang bisa diterima di seluruh dunia, misalnya batik. Ciri khas inilah yang bisa disematkan di tiap produk.
6) Soal warna juga menjadi perhatian penting. Jika desainer ingin produknya go international, ada pegangan warna yang digunakan untuk musim tertentu. Saat winter, warna-warna yang dikeluarkan seputar hitam, krem, navy blue, merah, kuning mustard. Jarang ada desainer mengeluarkan warna selain warna-warna tersebut.
7) Tren tak lepas dari faktor kebudayaan atau disebut cultural indicator. Misalnya, gaya orang Eropa tidak mau terlihat polish. Kebalikan dengan orang Indonesia yang ingin terlihat polish dari ujung rambut sampai ujung kaki, wajah full make up. Seorang pelaku bisnis fashion juga disarankan untuk lebih jauh mengenali unsur kebudayaan, hingga sampai pada apa saja yang boleh dan dilarang di suatu negara. Misalnya, warna putih identik dengan warna kematian bagi masyarakat etnis tertentu. Di Malaysia, ada beberapa gambar binatang yang tidak boleh digunakan untuk pakaian.
8) Pengetahuan akan kebiasaan konsumen menjadi kunci penjualan. Untuk itulah perlu mengamati customer behavior. Misalnya, pengalaman Sari saat menjual pakaian di sebuah gerai di Singapura dengan harga sekitar 100 dolar. “Ada seorang customer yang bertanya apakah pakaian tersebut perlu untuk di-dry clean,” ujar Sari. Konsumen di negara maju cenderung lebih cermat dan teliti dalam membeli barang.
9) Bisa berpatokan dari rumus 5W+1H (Who, What, Where, When, Why, How).siapa yang menjadi sosok ternama di kalangan , Apa trend fashion yang di gunakan, tentang wawasan juga kita tidak hanya terpatok di lokal, dan nasional , Bahkan juga harus melihat di Internasional fashion ,
10) yang terakhir ini biasa nyadi tentukan dengan sudut pandang fashion internasional , yang di publikasikan secara terang terangan di berita koran ,maupun sosial media ,desainer harus lebih dahulu dan teliti tentang produk yang akan di terbitkan dari perusahaan ternama dan terdahulu.